Senin, 17 September 2007

Tafsir Ibnu Kasir, Al Fatihah, Ayat 7


"(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."


Tafsir Ibnu Kasir. Dalam hadis yang lalu disebutkan apabila seseorang hamba mengucapkan "Tunjukilah kami ke jalan yang lurus..." sampai akhir surat, maka Allah Swt berfirman: "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta."

Firman Allah Swt. yang mengatakan: "Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka" (Al-Fatihah: 7)

berkedudukan menafsirkan makna siraatal mustaqim. Menurut kalangan ahli nahwu menjadi badal , dan boleh dianggap sebagai 'ataf bayan.

Orang - orang yang memperoleh anugerah nikmat dari Allah Swt adalah mereka yang disebutkan di dalam surat An-Nisaa melalui firman-Nya: "Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui." (An-Nisaa: 69-70)

Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna firman Allah Swt., "(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka" (Al-Faatihah: 7) ialah orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka berupa ketaatan kepada-Mu, para nabi-Mu, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas sehubungan dengan makna firman-Nya, "(yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka" (Al-Faatihah: 7). Makna yang dimaksud adalah "para nabi" Ibnu Juraij meriwayatkan pula dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang dimaksud dengan "mereka adalah orang-orang beriman; hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid. Sedangkan menurut Waki', mereka adalah orang-orang muslim. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, mereka adalah Nabi Saw. dan orang-orang yang mengikutinya. Tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas tadi mempunyai pengertian yang lebih mencakup dan lebih luas.

Firman Allah Swt: "bukan (jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" (Al - Faatihah: 7)

Menurut jumhur ulama, lafaz gairi dibaca jar berkedudukan sebagai na'at (sifat). Az-Zamakhsyari mengatakan, dibaca gaira secara nasab karena dianggap sebagai haal (keterangan keadaan) , hal ini merupakan bacaan Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar ibnu Khattab r.a. Qiraah ini diriwayatkan oleh Ibnu Kasir. Sedangkan dalam kedudukan sebagai zul haal ialah damir yang ada pada lafaz 'alaihim, dan menjadi 'amil ialah lafaz an'amta.

Makna ayat "tunjukilah kami kepada jalan yang lurus" yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat anugerah nikmat kepada mereka yang telah disebutkan sifat dan ciri khasnya. Mereka adalah ahli hidayah, istiqomah, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya, dengan cara mengerjakan semua yang diperintahkan-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, mereka adalah orang-orang yang telah rusak kehendaknya; mereka mengetahui perkara yang hak, tetapi menyimpang darinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat, mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu (agama), akhirnya mereka bergelimang dalam kesesatan tanpa mendapatkan hidayahkepada jalan yang hak (benar)

Pembicaraan dalam ayat ini dikuatkan dengan huruf laa untuk menunjukan bahwa ada dua jalan yang kedua-duanya rusak, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan oleh orang-orang Nasrani

Sebagian dari kalangan ulama nahwu ada yang menduga bahwa kata gairi dalam ayat ini bermakna istisna (pengecualian). Berdasarkan takwil ini berarti istisna bersifat munqati', mengingat mereka dikecualikan dari orang-orang yang beroleh nikmat, dan mereka bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beroleh nikmat.

Dalam kalimat gairil magduubi 'alaihim, makna yang dimaksud ialah gairi siraatil magduubi 'alaihim (bukan pula jalan orang-orang yang dimurkai) Dalam kalimat ini cukup hanya dengan menyebut mudaf ilaih-nya saja, tanpa mudaf lagi; pengertian ini telah ditunjukkan melalui konteks kalimat sebelumnya, yaitu firman-Nya: "Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (Al-Faatihah: 6-7)

Kemudian Allah Swt berfirman: "bukan (jalan) mereka yang dimurkai." (Al-Faatihah: 7) Di antara mereka ada yang menduga bahwa huruf laa dalam bentuk firman_Nya, "Walad daalliina" adalah laa zaidah (tambahan) Bentuk kalam selengkapnya menurut hipotesis mereka adalah seperti berikut:"Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan orang-orang yang sesat."

Dengan demikian bacaan ini memperkuat apa yang telah kami katakan , yaitu bahwa sesungguhnya huruf laa didatangkan hanya untuk menguatkan makna nafi agar tidak ada dugaan yang menyangka bahwa lafaz ini di-'ataf-kan kepada allaziina an'amta 'alaihim; juga untuk membedakan kedua jalan tersebut dengan maksud agar masing-masing terpisah jauh dari yang lainnya, karena sesungguhnya jalan yang ditempuh oleh ahli iman mengandung ilmu yang hak dan pengamalannya, sedangkan orang-orang Yahudi telah kehilangan pengamalannya, dan orang-orang Nasrani kehilangan ilmunya. Karena itu, dikatakan murka menimpa orang - orang Yahudi dan kesesatan menimpa orang - orang Nasrani. Orang yang mengetahui suatu ilmu lalu ia meninggalkannya, yakni tidak mengamalkannya; berarti dia berhak mendapat murka; lain halnya dengan orang yang tidak mempunyai ilmu. Orang-orang Nasrani di saat mereka mengarah ke suatu tujuan, tetapi mereka tidak mendapat petunjuk menuju ke jalannya, mengingat mereka mendatangi sesuatu bukan dari pintunya, yakni tidak mengikuti perkara yang hak, akhirnya sesatlah mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani sesat lagi di murkai. Hanya, yang dikhususkan mendapat murka adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Swt: "yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah" (Al-Maaidah: 60)

Yang dikhususkan mendapat predikat sesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya: "mereka telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Maaidah: 77)

Hal yang sama disebutkan pula oleh banyak hadis dan asar. Pengertian ini tampak jelas dan gamblang dalam riwayat yang diketengahkan oleh Imam Ahmad. Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far...dari Addi ibnu Hatim yang mengatakan, "Pasukan berkuda Rasulullah Saw tiba, lalu mereka mengambil bibiku dan sejumlah orang dari kaumku. Ketika pasukan membawa mereka ke hadapan Rasulullah Saw., mereka berbaris bersaf di hadapannya, dan berkatalah bibiku, 'Wahai Rasulullah, pemimpin kami telah jauh , dan aku tak beranak lagi, sedangkan aku adalah seoarng wanita yang telah lanjut usia, tiada suatu pelayan pun yang dapat kusajikan. Maka bebaskanlah diriku, semoga Allah membalasmu' Rasulullah Saw bertanya, 'Siapakah pemimpinmu ?' Bibiku menjawab 'Addi ibnu Hattim' Rasulullah Saw menjawab 'Dia orang yang membangkang terhadap Allah dan Rasul-Nya' lalu beliau membebaskan bibiku. Ketika Rasulullah Saw kembali bersama seorang lelaki di sampingnya , lalu lelaki itu berkata (kepada bibiku) 'Mintalah unta kendaraan kepadanya' lalu aku meminta unta kendaraan kepadanya dan ternyata aku diberi"

Addi ibnu Hatim melanjutkan kisahnya "Setelah itu bibiku datang kepadaku dan berkata, 'Sesungguhnya aku diperlakukan dengan suatu perlakuan yang tidak pernah dilakukan oleh ayahmu. Sesungguhnya beliau kedatangan seseorang , lalu orang itu memperoleh darinya apa yang dimintanya; dan datang lagi kepadanya orang lain, maka orang itu pun memperoleh darinya apa yang dimintanya"

Addi ibnu Hatim melanjutkan kisahnya , "Maka aku datang kepada beliau Saw, ternyata disisi beliau terdapat seorang wanita dan banyak anak, lalu disebutkan bahwa mereka adalah kaum kerabat Nabi Saw. Maka aku kini mengetahui bahwa Nabi Saw bukanlah seorang raja seperti kaisar, bukan pula seperti Kisra. Kemudian beliau Saw bersabda kepadaku , 'Hai Addi, apakah yang mendorongmu hingga kamu membangkang tidak mau mengucapkan ,"Tidak ada Tuhan selain Allah?" Apakah ada Tuhan selain Allah? Apakah yang mendorongmu membangkang tidak mau mengucapkan , 'Allahu Akbar'? Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah Swt'?"

Addi ibnu Hatim melanjutkan kisahnya , "Maka aku masuk Islam, dan kulihat wajah beliau tampak berseri-seri, lalu beliau bersabda, 'Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani."

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi melalui Hadis Sammak ibnu Harb, dan ia menilainya hasan garib.

Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Hammad ibnu Salamah melalui Sammak, dari Murri ibnu Qatri, dari Addi ibnu Hatim yang menceritakan: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai firman-Nya,"Bukan jalan orang - orang yang dimurkai," lalu beliau menjawab,"Mereka adalah orang - orang Yahudi" , dan tentang firman-Nya, "Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat," beliau menjawab,"Orang - orang Nasrani adalah orang-orang yang sesat."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, ia belum pernah mengetahui di kalangan ulama tafsir ada perselisihan pendapat mengenai makna ayat ini. Bukti yang menjadi pegangan pada imam tersebut dalam masalah 'orang-orang Yahudi adalah mereka yang dimurkai, dan orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang sesat' ialah hadis yang telah lalu dan firman Allah Swt. yang mengisahkan tentang kaum Bani Israil dalam surat Al Baqarah yaitu: "Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu, mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan." (Al-Baqarah: 90)

Di dalam surat Al-Maidah Allah Swt berfirman:"Katakanlah,'Apakah akan aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannyadaripada (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, dan (orang yang) menyembah tagut?' Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Maidah: 60)

"Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (Al-Maidah: 78-79)

Di dalam kitab Sirah (sejarah) disebutkan oleh Zaid ibnu Amr ibnu Nufail, ketika dia bersama segolongan teman-temannya berangkat menuju negeri Syam dalam rangka mencari agama yang hanif (agama Nabi Ibrahim a.s) Setelah mereka sampai di negeri Syam, orang-orang Yahudi berkata kepadanya, "Sesungguhnya kamu tidak akan mampu masuk agama kami sebelum kamu mengambil bagianmu dari murka Allah" Maka Amr menjawab, "Aku justru sedang mencari jalan agar terhindar dari murka Allah." Orang-orang Nasrani berkata kepadanya,"Sesungguhnya kamu tidak akan mampu masuk agama kami sebelum kamu mengambil bagianmu dari murka Allah." Maka Amr ibnu Nufail menjawab, "Aku tidak mampu."

Amr ibnu Nufail tetap pada fitrahnya dan menjauhi penyembahan kepada berhala dan menjauhi agama kaum musyrik, tidak mau masuk, baik kedalam agama Yahudi maupun agama Nasrani. Sedangkan teman-temannya masuk agama Nasrani karena mereka menganggap agama Nasrani lebih dekat kepada agama hanif daripada agama Yahudi pada saat itu. Di antara mereka adalah Waraqah ibnu Naufal, hingga dia mendapat petunjuk dari Allah melalui Nabi-Nya, yaitu di saat Allah mengutusnya dan dia beriman kepada wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya. Semoga Allah melimpahkan rida kepadanya

Menurut pendapat yang sahih di kalangan para ulama, dimaafkan melakukan suatu kekurangan karena mengucapkan huruf antara dad dan za, mengingat makhraj keduanya berdekatan. Demikian itu karena dad makhraj-nya mulai dari bagian pinggir lidah dan daerah sekitarnya dari gigi geraham, sedangkan makhraj za dimulai dari ujung lidah dan pangkal gusi gigi seri bagian atas. Juga mengingat kedua huruf tersebut termasuk huruf majhurah, huruf rakhwah, dan huruf mutabbaqah. Karena itu, dimaafkan bila menggunakan salah satunya sebagai ganti dari yang lain bagi orang yang tidak dapat membedakan di antara keduanya.

Adapun hadis yang mengatakan: "Aku adalah orang yang paling fasih dalam mengucapkan huruf dad"

maka hadis ini tidak ada asalnya


Surat Al Fatihah berisikan tujuh ayat, yaitu mengandung pujian kepada Allah, mengagungkan-Nya, dan menyanjung-Nya dengan menyebut asma-asma Nya yang terbaik sesuai dengan sifat-sifat Nya yang maha Tinggi. Disebutkan pula hari kembali yaitu hari pembalsan dan mengandung petunjuk Nya buat hamba-hamba Nya agar mereka memohon dan ber tadarru (Merendahkan diri) kepada Nya serta berlepas diri dari upayadan kekuatan mereka. Surat Al Fatihah mengandung makna ikhlas dalam beribadah kepada Nya dan mengesakan Nya dengan sifat uluhiyyah serta membersihkan Nya dari segala bentuk persekutuan dan persamaan atau tandingan. Mengandung permohonan mereka kepada Allah Swt untuk diberi hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus yaitu agama Islam dan permohonan mereka agar hati mereka diteguhkan dalam agamatersebut hingga dapat mengantarkan mereka melampaui sirat (jembatan) yang sesungguhnya kelak di hari kiamat dan akhirnya akan membawa mereka ke surga yang penuh dengan kenikmatan di sisi para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.


Surat ini mengandung targib (anjuran) untuk mengerjakan amal-amal saleh agar mereka diamsukan ke dalam golongan orang-orang yang saleh kelak di hari kiamat. Juga mengandung tahzir (peringatan) terhadap jalan yang batil agar mereka tidak dikumpulkan bersama orang-orang yang menempuhnya kelak di hari kiamat. Mereka yang menempuh jalan batil itu adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.

Alangkah indahnya ungkapan isnad (penyandaran) pemberian nikmat kepada Allah SWT dalam firman-Nya: "Yaitu jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai" (Al-Fatihah: 7)

Dibuangnya fa'il dalam firman-Nya: "bukan (jalan) mereka yang dimurkai" (Al-Fatihah: 7)

Sekalipun pada hakikatnya Allah sendirilah yang menjadi fa'il-nya sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat lain, yaitu firman-Nya: "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?" (Al-Mujadilah: 14)

Demikian pula dalam meng-isnad-kan dalal (kesesatan) kepada pelakunya, sekalipun pada hakikatnya. Allah-lah yang menyesatkan mereka melalui takdir-Nya, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman Allah Swt: "Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (Al-Kahfi: 17)

"Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (Al-A'raf: 186)

Masih banyak ayat lainnya yang menunjukan bahwa hanya Allah sematalah yang memberi hidayah dan yang menyesatkan, tidak seperti yang dikatakan oleh golongan Qadariyah dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka mengatakan bahwa pelakunya adalah hamba-hamba itu sendiri, mereka mempunyai pilihan sendiri untuk melakukannya. Golongan Qadariyah ini mengatakan demikian dengan dalil-dalil mutasyabih dari Al-Qur'an dan tidak mau memakai nas-nas sarih (jelas) yang justru membantah pendapat mereka. hal seperti ini termasuk sikap dari orang-orang yang sesat dan keliru. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan: "Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dari Al-Qur'an, mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah. Maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka."

Yang dimaksud ialah yang dinamakan oleh Allah Swt di dalam firman-Nya: "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya." (Ali Imran: 7)

Segala puji bagi Allah, tiada bagi orang ahli bid'ah suatu hujjah pun yang sahih di dalam Al-Qur'an diturunkan untuk memisahkan antara perkara yang hak dan perkara yang batil dan membedakan antara hidayah dengan kesesatan. Di dalam Al-Qur'an tidak terdapat pertentangan, tidak pula perselisihan, karena ia dari sisi Allah, yaitu diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji

Orang yang membaca Al-Fatihah disunatkan mengucapkan lafaz amiin sesudahnya yang ber-wazan semisal dengan lafaz yaasiin. Akan tetapi, adakalanya dibaca amin dengan bacaan yang pendek. Makna yang dimaksud ialah "kabulkanlah"

Dalil yang menunjukkan hukum sunat membaca aamiin ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Daud, dan Imam Turmuzi melalui Wa'il ibu Hujr yang menceritakan:

"Aku pernah mendengar Nabi Saw. membaca, 'gairil magduubi 'alaihim walad daalliin.' Maka beliau membaca, 'ammiin' seraya memanjangkan suaranya dalam membacanya."

Menurut riwayat Imam Abu Daud, beliau mengeraskan bacaan amin-nya. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan. Hadis yang sama diriwayatkan pula melalui Ali r.a. dan Ibnu Mas'ud serta lain-lainnya.

Dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa apabila Rasulullah Saw. membaca "Gairil magdubi 'alaihim walad daalliin" lalu beliau membaca "Aamiin" hingga orang-orang yang berada disebelah kiri dan kanannya dari saf pertama mendengar suaranya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Daud dan Ibnu Majah, tetapi didalamnya di tambahkan bahwa masjid bergetar karena suara bacaan amin. Imam Ad-Daruqutni mengatakan,sanad hadis ini berpredikat hasan.

Dari Bilal, disebutkan bahwa dia pernah berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau mendahuluiku dengan bacaan amin(mu)" Demikianlah menurut riwayat Abu Daud.

Abu Nasr Al-Qusyairi telah menukil dari Al-Hasan dan Ja'far As-Sadiq, bahwa keduanya membaca tasydid huruf mim lafaz aamiin, semisal dengan apa yang terdapat di dalam firman-Nya:

"(dan jangan pula mengganggu) orang-orang yang mengunjungi Baitullah (Al-Maidah: 2)







(berlanjut...)
Apabila ingin mencari Tafisr Ibnu Kasir ayat-ayat sebelumnya bisa dilakukan melalui search engine yang ada di Tag Bar kanan atas atau melalui arsip blog.

Selasa, 21 Agustus 2007

Tafsir Ibnu Kasir, Al Fatihah, Ayat 6


Tunjukilah kami jalan yang lurus

Tafsir Ibnu Kasir.Bacaan yang dilakukan oleh jumhur ulama ialah as-siraat dengan memakai sad. tetapi ada pula yang membacanya siraat dengan memakai sin, ada pula yang membacanya ziraat dengan memakai za, menurut Al-Farra berasal dari dialek Bani Uzrah dan Bani Kalb.

Setelah pujian dipanjatkan terlebih dahulu kepada Allah Swt., sesuailah bila diiringi dengan permohonan , sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis di atas (penjelasan dalam tafsir ayat sebelumnya), yaitu: "Separo untuk-Ku dan separo lainnya buat hamba-Ku, serta bagi hamba-Ku apa yang dia minta."

Merupakan suatu hal yang baik bila seorang yang mengajukan permohonan kepada Allah Swt terlebih dahulu memuji-Nya, setelah itu baru memohon kepada-Nya apa yang dia hajatkan-juga buat saudara-saudara yang beriman-melalui ucapannya, "Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus." Cara ini lebih membawa kepada keberhasilan dan lebih dekat untuk diperkenankan oleh-Nya; karena itulah Allah memberi mereka petunjuk cara ini, mengingat Ia paling sempurna. Adakalanya permohonan itu diungkapkan oleh si pemohon melalui kalimat berita yang mengisahkan keadaan dan keperluan dirinya, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Nabi Musa a.s. dalam firman-Nya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (Al-Qasas: 24)

Tetapi adakalanya permohonan itu didahului dengan menyebutsifat Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Zun Nun dalam firman-Nya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (Al-Anbiyaa: 87)

Al-hidayah atau hidayah yang dimaksud dalam ayat ini ialah bimbingan dan taufik (dorongan). Lafaz hidayah ini adakalanya muta'addi dengan sendirinya, sebagaimana yang terdapat dalam ayat di bawah ini : "Tunjukilah kami jalan yang lurus" (Al-Fatihah: 6)

Maka al-hidayah mengandung makna "berilah kami ilham atau berilah kami taufik, atau anugerahilah kami, atau berilah kami", sebagaimana yang ada dalam firman-Nya: "Dan Kami telah menunjukan kepadanya dua jalan" (Al-Balad: 10)

Makna yang dimaksud ialah "Kami telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan kebaikan dan jalan keburukan "

Adakalanya al-hidayah muta'addi dengan ilaa, seperti yang ada dalam firman-Nya: "Allah telah memilihnya dan memberinya petunjuk ke jalan yang lurus" (An-Nahl: 121)

Allah Swt telah berfirman: "Maka tunjukanlah kepada mereka jalan ke neraka." (As-Saffat: 23)

Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas ialah bimbingan dan petunjuk, begitu pula makna yang terkandung di dalam firman lainya, yaitu: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus" (Asy-Syuura: 52)

Adakalanya al-hidayah ber-muta'addi kepada lam, sebagaimana ucapan ahli surga yang disitir oleh firman-Nya: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (Al-A'raaf: 43)

Makna yang dimaksud ialah "segala puji bagi Allah yang telah memberi kami taufiq ke surga ini dan menjadikan kami sebagai penghuninya"

Mengenai as-siraatal mustaqiim, menurut Imam Abu Ja'far ibnu Jarir semua kalangan ahli takwil telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan siraatal mustaqiim ialah "jalan yang jelas lagi tidak berbelok-belok (lurus)" Penegrtian ini berlaku di kalangan semua dialek bahasa Arab

Menurutnya, syawahid (bukti-bukti) yang menunjukan pengertian tersebut sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya. Kemudian ia mengatakan, "Setelah itu orang-orang Arab menggunakan sirat ini dengan makna isti'arah (pinjaman), lalu digunakan untuk menunjukan setiap ucapan , perbuatan, dan sifat baik yang lurus atau yang menyimpang. Maka jalan yang lurus disebut mustaqiim, sedangkan jalan yang menyimpang disebut mu'awwij"

Selanjutnya ungkapan para ahli tafsir dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf berbeda dalam menafsirkan lafaz sirat ini, sekalipun pada garis besarnya mempunyai makna yang sama, yaitu mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya

Telah diriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan sirat ialah Kitabullah alias Al-Qur'an. Ibnu Abu Hatim mengatakan telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Yaman...dari Al - Haris Al-A'war sendiri, dari Ali ibnu Abu Talib r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda : "Siraatal Mustaqiim adalah Kitabullah."

Menurut pendapat lain , siraatal mustaqim adalah al-islam (agama Islam). Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Malaikat Jibril pernah berkata kepada Nabi Muhammad Saw., "Hai Muhammad, katakanlah, 'Tunjukilah kami jalan yang lurus" Makna yang dimaksud ialah "berilah kami ilham jalan petunjuk, yaitu agama Allah yang tiada kebengkokan di dalamnya"

maimun ibnu Mihran meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan firman-Nya: "Tunjukilah kami jalan yang lurus." (Al-Fatihah: 6)

Bahwa makna yang dimaksud dengan "jalan yang lurus" itu adalah "agama Islam"

Dalam hadis berikut yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya disebutkan telah meriwayatkan kepada kami Al-Hasan ibnu Siwar Abul Ala...dari An-Nawwas ibnu Sam'an, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: "Allah membuat suatu perumpamaan, yaitu sebuah jembatan yang lurus, pada kedua sisinya terdapat dua tembok yang mempunyai pintu-pintu terbuka, tetapi pada pintu-pintu tersebut terdapat tirai yang menutupinya, sedangkan pada pintu masuk ke jembatan itu terdapat seorang penyeru yang menyerukan 'Hai manusia, masuklah kalian semua ke jembatan ini dan janganlah kalian menyimpang darinya.' dan diatas jembatan terdapat pula seorang juru penyeru; apabila ada seseorang hendak membuka salah satu dari pintu-pintu (yang berada pada kedua sisi jembatan) itu, maka juru penyeru berkata, 'Celaka kamu, janganlah kamu buka pintu itu, karena sesungguhnya jika kamu buka niscaya kamu masuk ke dalamnya." Jembatan itu adalah agama Islam, kedua tembok adalah batasan-batasan (hukuman-hukuman had) Allah, pintu-pintu yang terbuka itu adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah, sedangkan juru penyeru yang berada di depan pintu jembatan adalah Kitabullah, dan juru penyelamat yang berada di atas jembatan itu adalah nasihat Allah yang berada dalam kalbu setiap orang muslim."

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadis Abun Naqdr Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Hamzah ibnul Mugiroh, dari Asim Al-Ahwal, dari Abul Aliyah mengenai makna "Tunjukilah kami ke jalan yang benar" bahwa yang dimaksud dengan jalan yang benar adalah Nabi Saw. sendiri dan kedua sahabat yang menjadi khalifah sesudahnya (yaitu Abu Bakar dan Umar r.a.) Asim mengatakan "Lalu kami ceritakan pendapat tersebut kepada Al-hasan, maka Al-Hasan berkata, 'Abul Aliyah memang benar dan telah menunaikan nasihatnya'.

Semua pendapat di atas adalah benar, satu sama lainnya saling memperkuat, karena barang siapa mengikiuti Nabi Saw. dan kedua sahabatnya yang sesudahnya (yaitu Abu bakar dan Umar r.a.) berarti mengikuti jalan yang hak (benar ; dan barang siapa yang mengikuti jalan yang benar , berarti dia mengikuti jalan Islam. barang siapa mengikuti jalan islam berarti mengikuti Al-Qur'an, yaitu Kitabullah atau tali Allah yang kuat atau jalan yang lurus. Semua definisi yang telah dikemukakan di atas benar, masing-masing membenarkan yang lainnya.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fadl As-Siqti ...dari Abu Wa'il dari Abdullah yang mengatakan bahwa siraatal mustaqim itu ialah apa yang ditinggalkan oleh Rasullulah Saw buat kita semua.

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan bahwa takwil yang lebih utama bagi ayat berikut, yakni: "Tunjukilah kami jalan yang lurus" (Al- Fatihah: 6) ialah "berilah kami taufik keteguhan dalam mengerjakan semua yang Engkau ridai dan semua ucapan serta perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat taufik di antara hamba-hamba-Mu", yang demikian itu adalah siraatal mustaqiim (jalan yang lurus) Dikatakan demikian karena orang yang telah diberi taufik untuk mengerjakan semua perbuatanyang pernah dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapat nikmat taufiq dari Allah di antara hamba-hamba-Nya yakni dari kalangan para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang saleh - berarti dia telah mendapat taufik dalam Islam, berpegang teguh kepada Kitabullah, mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta mengikuti jejak Nabi Saw. dan empat khalifah sesudahnya serta jejak setiap hambayang saleh. Semua itu termasuk kedalam pengertian siraatal mustaqiim (jalan yang lurus)

Apabila dikatakan kepadamu, "Mengapa seorang mukmin dituntut untuk memohon hidayahdalam setiap salat dan juga dalam keadaan lainnya, padahal dia sendiri berpredikat sebagai orang yang beroleh hidayah? Apakah hal ini termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang sudah teraih?"

Sebagai jawabannya dapat dikatakan, "Tidak" Seandainya seorang hamba tidak memrlukan minta petunjuk di siang dan malam harinya, niscaya Allah tidak akan membimbingnya ke arah itu. Karena sesungguhnya seorang hamba itu selalu memerlukan Allah Swt dalam setiap saat dan keadaannya agar dimantapkan hatinya pada hidayah dan dipertajam pandangannya untuk menemukan hidayah, serta hidayahnya makin bertambah meningkat dan terus-menerus berada dalam jalan hidayah. Sesungguhnya seorang hamba tidak dapat memiliki manfaat buat dirinya sendiri dan tidak dapat menolak mudarat terhadap dirinya kecuali sebatas apa yang dikehendaki oleh Allah Swt Maka Allah memberinya petunjuk agar dia minta kepada-Nya setiap waktu, semoga Dia memberinya pertolongan dan keteguhan hati serta taufik. Orang yang berbahagia adalah orang yang beroleh taufik Allah hingga dirinya terdorong memohon kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah Swt telah menjamin akan memperkenankan doa orang yang meminta kepada-Nya. Terlebih lagi bagi orang yang dalam keadaan terdesak lagi sangat memerlukan pertolongan di setiap waktunya, baik di tengah malam ataupun di pagi dan petang harinya

Allah Swt telah berfirman:"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (An-Nisaa: 136)

Allah memerintahkan kepada orang - orang yang beriman untuk beriman. Hal seperti ini bukan termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang telah diraih, melainkan makna yang dimaksud ialah "perintah untuk lebih meneguhkan iman dan terus-menerus melakukan semua amal perbuatan yang melestarikan keimanan" Allah Swt telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan doa berikut yang termaktub didalam firman-Nya: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)" (Ali Imran: 8)

Abu Bakar As-Siddiq r.a. sering membaca ayat ini dalam rakaat ketiga setiap salat Maghrib, yaitu sesudah dia membaca Surat Al Faatihah; ayat ini dibacanya dengan suara perlahan. Berdasarkan kesimpulan ini dapat dikatakan bahwa makna firman-Nya "Tunjukilah kami jalan yang lurus" (Al-Faatihah: 6) ialah "tetapkanlah kami pada jalan yang lurus dan janganlah Engkau simpangkan kami ke jalan yang lain" Tafsir Ibnu Kasir